Inilah Mitos Mengenai Alat Kontrasepsi untuk Wanita

“Di Kenya, banyak anak remaja yang percaya bahwa meminum segelas Coca Cola sebelum dan setelah hubungan seksual dapat mencegah anak perempuan dari kehamilan,” kata Maureen Oduor, pengajar kesehatan seksual yang lahir di Kenya dan bekerja di Tanzania.

Oduor tahu bahwa soda tidak mencegah kehamilan. Dia juga tahu bahwa mitos Tanzania dan Kenya yang mengatakan jika anak perempuan tidak berhubungan seks di usia muda, maka vagina mereka akan menutup, hanyalah mitos belaka.

Namun, banyak mitos mengenai alat kontrasepsi yang beredar dan menyesatkan wanita.

Mitos Mengenai Alat Kontrasepsi untuk Wanita

Mitos Mengenai Alat Kontrasepsi untuk Wanita

Baca Juga : Model Rambut Sebahu Untuk Wanita Aktif

Salah satu mitos yang populer dan salah menyebutkan bahwa kontrasepsi membuat wanita mandul atau melahirkan anak dengan kelainan.

Hal ini diakui juga oleh jurnalis Ana Santos dari Filipina. Dia mengatakan bahwa banyak orang di negaranya yang percaya bahwa melompat-lompat dan minum air kelapa dengan deterjen atau pemutih setelah seks dapat mencegah kehamilan.

Bekerja untuk SHDEPHA, sebuah organisasi yang melawan diskriminasi terhadap korban HIV/AIDS dan memberikan edukasi dan layanan gratis mengenai kontrasepsi, Oduor sangat menggebu-gebu mengenai edukasi seksual sejak dini.

Semangat ini berawal dari saat Oduor masih berusia 13 tahun ketika dia kembali ke asrama. Oduor menemukan temannya yang seumur di ranjang dalam keadaan tidak sadar dan bersimbah darah. Bersama dengan 7 orang temannya, Oduor menggotong temannya tersebut sejauh 8 kilometer.

Akan tetapi, teman tersebut meninggal ketika mereka mencapai rumah sakit. Staf rumah sakit yang bertugas mengatakan bahwa penyebab anak perempuan tersebut meninggal adalah karena komplikasi kehamilan dan aborsi yang tidak aman.

Berbicara dengan Refinery29 saat ditemui di Konferensi Keluarga Berencana Internasional 2016 di Indonesia, Oduor mengatakan, “Yang membuatku paling marah dan bertanya-tanya adalah kenyataan bahwa cerita ini disembunyikan. Mereka (staf di sekolah Oduor) berkata bahwa anak perempuan tersebut hanya sakit, meninggal dan akan dikubur.”

“Dia tidak diajari mengenai keluarga berencana, dia tidak diajari mengenai bagaimana menegosiasikan seks… Aku menyaksikan hal tersebut dan itulah saat duniaku terbalik, dan aku berkata, ‘adakah yang bisa kulakukan?’” ujarnya.

Di usia 30, Oduor telah membangun grup konseling di asramanya dan memimpin berbagai organisasi untuk membantu remaja di Kenya dan Tanzania dengan satu pesan yang jelas: anak muda melakukan hubungan seksual dan mereka memiliki hak untuk melakukannya dengan aman.

“Anak muda siap untuk ini, dan waktunya adalah sekarang – kita tidak bisa berkata bahwa hal tersebut masih besok,” pungkasnya.

sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *